ANALISIS PENGUASAAN KONSEP MAHASISWA
PADA TOPIK KINEMATIKA PARTIKEL
BAB I
PENDAHULUAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode ini dipilih untuk mencapai tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan persentase penguasaan konsep dan miskonsepsi mahasiswa pada topik kinematika partikel sebelum mengikuti perkuliahan Fisika Dasar I. Subjek penelitian sebanyak 86 mahasiswa Pendidikan Fisika semester I pada Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo tahun akademik 2013-2014. Data penelitian dikumpulkan melalui instrumen tes pilihan gandadengan alasan terbuka.Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata persentase mahasiswa yang memiliki penguasaan konsep dengan baik (38%) lebih kecil daripada rata-rata persentase mahasiswa yang memiliki penguasaan konsep lemah 40% dari 10 konsep kinematika partikel yang diujikan.
Persentase mahasiswa yang memiliki penguasaan konsep padakategori baik yakni terbesar 65% pada konsep gerak yang dipaparkan dalam bentuk grafik posisi terhadap waktudan terkecil 26% pada konsep gerak lurus berarturan yang dipaparkan dalam bentuk grafik, dan persentase mahasiswa yang memiliki penguasaan konsep lemah yakni terbesar 60% pada konsep gerak lurus berubah beraturan yang dipaparkan dalam bentuk grafik dan terkecil 15% pada konsep gerak yang dipaparkan dalam bentuk kalimat. Selain itu, persentase mahasiswa yang mengalami miskonsepsi yakni terbesar 34% pada konsep perpindahan, kecepatan, dan percepatan yang dipaparkan dalam bentuk persamaan matematik dan terkecil 12% pada konsep gerak yang dipaparkan dalam bentuk grafik posisi terhadap waktu.
Berdasarkan ilmu fisika, benda titik yang disebut partikel adalah benda yang diabaikan ukuran, bentuk, rotasi, dan getarannya, tetapi massanya tetap diperhitungkan (Sarojo, 2002). Benda titik atau partikel dikatakan bergerak apabila benda tersebut mengalami perpindahan tempat. Dengan kata lain, gerak yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari didefinisikan sebagai perubahan posisi (letak) relatif terhadap suatu titik acuan tertentu, biasanya kita menggunakan bumi (tanah) sebagai acuan umum. Kajian dalam ilmu fisika yang membahas tentang gerak benda, gaya dan energi membentuk suatu bidang yang disebut mekanika (Halliday, 2011; Depdiknas, 2005).
Mekanik dibedakan menjadi dua bagian,pertama: kinematika dan kedua: dinamika. Kinematika mendeskripsikan tentang gerak benda tanpa memperhitungkan penyebab atau perubahan geraknya, sedangkan dinamika membahas tentang gerak benda atau perubahan gerak beserta penyebabnya yakni gaya karena massa benda mempengaruhi gerak. Kinematika partikel berkaitan dengan pengertian tentang lintasan (jarak dan perpindahan) sebagai hasil dari data pengamatan gerak. Jadi, keadaan gerak ditentukan oleh data dari posisi atau letak partikel pada setiap saat. Pembahasan tentang gerak dalam kinematika partikel akan melibatan besaran-besaran seperti perpindahan, kecepatan dan percepatan. Kinematika partikel merupakan topik pertama yang dibahas dalam perkuliahan Fisika Dasar I dan menjadi dasar bagi topik-topik lainnya maupun mata kuliah fisika lainnya.
Kompetensi atau kecerdasan yang diharapkan dalam perkuliahan kinematika partikel adalah mampu mengaitkan berbagai besaran fisis perpindahan, kecepatan, dan percepatan untuk mendeskripsikan dan membandingkan berbagai jenis gerak, serta mampu melakukan percobaan, membuat, membaca, dan menggunakan tabel, diagram, dan grafik untuk mengungkapkan gerak. Rumusan kecerdasan ini menekankan penguasaan konsep sebagai kuncinya. Penguasaan konsep seseorang erat kaitannya dengan prinsip teori belajar konstruktivisme yakni pengetahuan dibangun atau dikonstruksi sendiri secara terus-menerus sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju yang lebih lengkap (Suparno, 2006; Prasetyo, 2001).
Konsep itu sendiri menurut Dahar (1989) adalah atributatribut sama yang diberikan kepada sejumlah objek, proses, fenomena, atau kejadian dalam membedakan dan mengelompokkannya. Berdasarkan beberapa dekade, banyak hasil-hasil penelitian dalam bidang pendidikan fisika yang difokuskan pada masalah-masalah mekanika, beberapa di antaranya menyelidiki tentang konsep-konsep dasar mekanika (Halloun & Hestenes, 1985) dan yang lainnya menyelidik tentang kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari kinematika partikel (McDermott, dkk, 1987). Kesulitan-kesulitan mahasiswa dalam mempelajari kinematika partikel pada topik-topik tertentu ketika masih berstatus siswa berpeluang terjadi miskonsepsi.
Menurut Suparno (2005) miskonsepsi siswa dapat disebabkan oleh siswa, guru, buku teks, kontek dan metode pembelajaran. Lebih lanjut Suparno (2005) mengatakan konsep awal atau prakonsepsi siswa dalam bidang fisika paling banyak memicu terjadinya miskonsepsi siswa, dan guru yang tidak menguasai materi juga memicu terjadinya miskonsepsi siswa.
Mempelajari fisika tanpa memahami konsep-konsep tidaklah sesuai dengan hakekat IPA sebagai produk dan proses serta tidak sesuai proses belajar bermakna. Dalam kehidupan sehari-hari cukup banyak siswa berpikir bahwa jika dua benda bergerak dalam waktu dan percepatan yang sama maka jarak yang ditempuh sama pula. Kecepatan awal perlu diperhitungkan karena unsur tersebut yang membuat jaraknya berbeda.
Sebelum memasuki ruang-ruang pembelajaran peserta didik telah memiliki konsepsi sendiri-sendiri tentang sesuatu, termasuk yang berkaitan dengan materi fisika. Jika prokonsepsi siswa sering kali tidak cocok dengan pengetahuan yang diterima dari pakar, maka siswa tersebut akan mengalami miskosepsi. Prokonsepsi siswa atas konsep fisika yang dibangun oleh siswa itu sendiri melalui belajar informal dalam upaya memberikan makna atas pengalaman mereka sehari-hari mempunyai peran yang sangat besar dalam pembentukan konsepsi ilmiah. Analisis pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran fisika dilakukan untuk mengevaluasi hasil dari pembelajaran yang telah diperoleh.
BAB II
METODE PENELITIAN
A. Analisis Data Menggunakan Metode Deskriptif
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif (Sugiyono, 2006) dan dilaksanakan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika semester 1 Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo tahun akademik 2013-2014 sebelum mengikuti mata kuliah Fisika Dasar 1 dengan jumlah subjek sebesar 86 mahasiswa. Instrumen tes yang digunakan terdiri dari 10 soal pilihan ganda dengan alasan terbuka yang terdiri dari 6 option disertai dengan model Confidence Scale Rating (CSR).
Hasil tes dan CSR diolah dengan menggunakan metode deskriptif, kemudian dipaparkan dalam bentuk kalimat, tabel, persentase, dan grafik untuk menunjukkan derajat penguasaan dan miskonsepsi mahasiswa pada konsep kinematika partikel.
Tabel 1. Matriks penguasaan konsep berdasarkan status jawaban dan angka CSR
Status Penilaian Skala Keyakinan
Jawaban 2 1 0
Benar Baik Cukup Rendah
Salah Miskonsepsi Rendah Rendah
Diadaptasi dari Potgieter, dkk (2010)
B. Memahami Hasil konsepsi kinematika Partikel
Temuan-temuan dalam penelitian ini dideskripsikan dalam bentuk persentase bagi mahasiswa yang menguasai konsep dengan baik, penguasaannya lemah (tidak utuh), dan yang mengalami miskonsepsi pada setiap label konsep kinematika partikel yang diujikan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa persentase mahasiswa yang menguasai konsep dengan baik yakni terbesar 65% pada konsep gerak dalam bentuk representasi grafik posisi terhadap waktu dan terkecil 26% pada konsep gerak lurus beraturan yang dipaparkan dalam bentuk grafik: penguasaan konsepnya lemah yakni terbesar 60% pada konsep gerak lurus berubah beraturan yang dipaparkan dalam bentuk grafik yang terkecil 15% pada konsep gerak yang dipaparkan dalam bentuk kalimat: dan mengalami miskonsepsi yakni terbesar 34% pada konsep perpindahan, kecepatan, dan percepatan yang dipaparkan dalam bentuk persamaan matematik dan terkecil 12% pada konsep gerak yang dipaparkan dalam bentuk grafik posisi terhadap waktu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Simpulan dari penelitian ini adalah:
1. Rata-rata presentase mahasiswa (38%) yang memiliki penguasaan konsep dengan baik lebih kecil dibanding dengan rata-rata persentase mahasiswa (40%) yang memiliki penguasaan konsep lemah pada konsep kinematika partikel yang diujikan.
2. Temuan miskonsepsi pada setiap label konsep kinematika partikel menjadi rekomendasi dalam memilih strategi yang tepat untuk mengatasinya pada saat perkuliahan.
B. Saran
B. Saran
Penulis menyarankan agar pembaca lebih memperbanyak lagi referensi-referensi mengenai Dasar-Dasar Pengetahuan selain dari buku ini. Hal ini dikarenakan oleh keterbatasan penulis dalam mencari referensi-referensi dalam penyusunan buku ini.
DAFTAR PUSTAKA
Dahar, R W. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta : Erlangga
Depdiknas. (2005). Materi Pelatihan Terintegrasi Ilmu Pengetahuan Alam-Fisika. Buku 2. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Direktorat pendidikan Lanjutan Pertama.
Mechanics. International Journal of Science Education, 32(11), 1407-1429
Sarojo, G. A. (2002). Seri Fisika Dasar, Mekanika. Jakarta: Salemba Teknika
Suparno, P. (2005). Miskonsepsi dan Perubahan Konsep Pendidikan Fisika. Jakarta : Gramedia Widiasrama Indonesia
Suparno, P. (2006) Filsafat Kontruktivisme dalam pendidikan. Yogyakarta : Kanisius
https://scholar.google.co.id/scholar?q=jurnal+fisika+bidang+kinematika&hl=id&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholar#d=gs_qabs&p=&u=%23p%3Did7KCBV16JcJ ,diunduh pada tanggal 25 Mei 2018
http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/inpafi/article/viewFile/1971/7998 ,diunduh pada tanggal 25 Mei 2018
1 komentar:
Terima Kasih .. Sangat Bermanfaat :)
Posting Komentar