MAKALAH
PROFESI GURU TERKAIT KEBUDAYAAN
( Pengembangan Lesson Study)
Disusun Oleh:
MUSLIANA
H0417328
Dosen Pengampu: Dr. Muhammad Jamil, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
MAJENE
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam rangka mendesign, merancang atau merencanakan kembali program dan kegiatan pendidikan, setiap lembagi sekolah harus berorientasi pada budaya profesionalisme. Seperti yang dimaksudkan secara sederhana, dapat dipahami sebagai konsep yang mengacu kepada sikap seseorang atau kelompok memiliki sistem budaya yang mampu memberikan pelayanan yang memuaskan bagi yang dilayani sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.
Membangun budaya profesionalisme sekolah, tentu saja membutuhkan menajemen organisasi sekolah yang kokoh. Sekolah-sekolah yang tidak memiliki manajemen yang berwibawa akan cepat goyang dan rapuh diterpa oleh arus perubahan zaman.
Menurut M.Sarbinan, bahwa sudah saatnya bagi lembaga pendidikan yang masih menggunakan paradigma lama dan tradisional diganti dengan paradigma baru yang lebih sesui dengan tuntutan dunia global. Maksud dari perubahan paradigma sekolah itu adalah membangnun manajemen sekolah yang berbasis mutu. Untuk memenuhi standar kelas global, lembaga pendidikan harus mencari alternatif kedepan yang inovatif dengan program-program unggulan. Hanya dengan cara itulah lembaga akan memperoleh pelanggan dan didukung masyarakat. Saat ini, masyarakat sudah pandai memetakan antara sekolah yang maju dengan sekolah yang “jenuh”. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa walaupun sekolah yang dikemas dengan program-program unggulan, sekolah unggulan, sekolah model itu terkesan mahal, tetapi banyak orang berebutan untuk menyekolahkan anak-anaknya di situ. Dengan sedikit agak mahal, tetapi mutunya terjamin maka orang akan berlomba-lomba untuk memilihnya. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan manajemen para penyelenggara pendidikan yang masih dipengaruhi oleh sumber daya manusia yang terbatas dan pengaruh budaya pedesaan yang cenderung mengacu pada pola management “alon-alon asal kelakon”.
Selain tersebut diatas, untuk mencapai standar dan norma-norma serta nilai-nilai kualitas sekolah diperlukan upaya pemberdayaan. Salah satu pemberdayaan yang perlu dilakukan adalah guru. Dalam organisasi sekolah, guru merupakan aktor atau agent penting yang berpengaruh kepada kualitas sekolah. Karena itu, kepala sekolah menduduki peran yang penting dalam usahanya memberdayakan guru. Setiap guru harus membangun visi profesionalisme dalam meningkatkan pelayanan pelangganya.
Pengembangan profesionalisme yang seharusnya dibangun pada suatu (kesejahteraan) , lemahnya kontrol (control , supervision) akademik jiwa berkorban atau semangat berjuang. Kelemahan inilah barangkali sering dihadapi oleh sekolah-sekolah. Dengan berbagai kelemahan tersebut, implikasinya menalar pada kegiatan proses belajar menjadi kurang efektif, mutu pendidikan menjadi rendah serta pengaruh yang sangat mencengangkan adalah menurunnya kuantitas minat peserta. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa untuk membangkitkan kualitas lembaga pendidikan menuju tatanan kehidupan modern, harus memiliki budaya profesionalitas yang kuat.
B. Rumusan Masalah
A. Pengertian kebudayaan profesi guru?
B. Pengertian lesson study?
C. Bagaimana tanggapan guru mengenai kebudayaan model lesson study?
C. Tujuan
A. Memahami tentang kebudayaan profesi guru
B. Memahami tentang lesson study
C. Mengetahui tanggapan guru mengenai kebudayaan model lesson study
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kebudayaan Profesi Guru
Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Seperangkat ilai yang disusun dan ditaati bersama sebagai acuan berperilaku dalam suatu komunitas masyarakat. Kebudayaan profesi berlaku di dalam masyarakat profesi tertentu.
Kebudayaan profesi adalah kebiasaan atau tradisi, norma atau nilai dan simbol baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Kebiasaan atau tradisi adalah tata cara yang sudah dilaksanakan berulang-ulang. Kebiasaan itu telah dirasakan manfaatnya oleh para profesi sehingga menjadi norma atau nilai budaya. Nilai budaya profesi merupakan kepercayaan dasar, suatu premise yang pasti yang menjadi dasar berpikir dan berperilaku profesional. (Noorika Ahmad, 2008).
Kebudayaan profesi adalah suatu kebudayaan organisasi formal yang mempunyai nilai-nilai, norma-norma, simbol-simbol dan konsep karir.(Achmad, 2011).
Nampak bahwa kebudayaan profesi itu membangun suatu tatanan karir bagi para anggotanya.Nilai-nilai, norma-norma, simbol-simbol dan konsep karir menjadi unsur unsur utama dalam kebudayaan profesi. Anggapan-anggapan dasar dan fundamental menjadi nilai sosial dari kelompok profesi. Tentu saja nilai esensial dari suatu profesi adalah jasa memberikan keahliannya kepada masyarakat luas yang menantikan kehadirannya. Guru sebagai tenaga pendidik profesional memiliki kebudayaan bermartabat di masyarakat. Guru sebagai pihak yang digugu dan ditiru, maka wajib menjadi contoh teladan bagi anak didiknya. Kompetensi profesional didukung pula oleh kompetensi pedagogik, sosial dan kepribadian.
B. Pengertian Lesson Study
LS adalah sebuah proses pengembangan kompetensi profesional untuk para guru yang dikembangkan secara sistematis dengan tujuan utama menjadikan proses pembelajaran lebih baik dan efektif (Cerbin dan Kopp, 2006).
Menurut Stigler dan Hiebert (1999), LS umumnya mengikuti 8 langkah utama, yaitu: 1) mendefinisikan permasalahan, hal ini dapat berlaku secara umum, misalnya bagaimana membuat peserta didik menyukai pelajaran fisika, atau permasalahan khusus, misalnya bagaimana membuat peserta didik memahami Teori Relativitas Einstein; 2) merencanakan proses belajar mengajar (PBM), proses ini dilakukan secara bersama-sama dan kolaboratif antar anggota kelompok, denga tujuan untuk mencari solusi terbaik dari permasalahan; 3) melaksanakan PBM, proses ini dilaksanakan oleh salah seorang guru sementara anggota lainnya berperan sebagai observer yang mencatat perilaku peserta didik dan hal-hal yang terjadi selama PBM; 4) melakukan diskusi dan refleksi terhadap proses PBM yang baru dilakukan, kegiatan ini bertujuan melakukan evaluasi terhadap proses PBM terutama pada penerapan alternatif solusi permasalahan, 5) melakukan revisi terhadap rencana PBM, dari hasil refleksi para anggota kelompok kembali bekerja bersama untuk membuat rencana PBM yang bisa memberikan hasil lebih baik daripada sebelumnya; 6) melaksanakan PBM kembali untuk mencoba rencana PBM yang baru disusun, pada tahap ini dapat juga diundang observer dari luar untuk memberikan pendapat dan saran bagi pengembangan solusi lebih lanjut; 7) evaluasi dan refleksi lebih lanjut untuk kembali membahas berbagai hasil dari penerapan solusi pada PBM yang telah dilaksanakan; dan 8) membagi hasil pengalaman tersebut dalam bentuk diskusi atau publikasi berupa tulisan.
LS dapat memberi solusi, karena LS adalah model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinambungan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Para pendidik secara kolaboratif, pertama-tama menganalisis masalah pembelajaran, baik dari aspek materi ajar maupun metode pembelajaran.
LS merupakan salah satu strategi pengembangan profesi guru. Kelompok guru mengembangkan pembelajaran secara bersama-sama, salah seorang guru ditugasi melaksanakan pembelajaran, guru lainnya mengamati belajar
siswa. Proses ini dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Pada akhir kegiatan,guru-guru berkumpul dan melakukan tanya jawab tentang pembelajaran yang dilakukan, merevisi dan menyusun pembelajaran berikutnya.
Implementasi LS secara berkelanjutan akan membantu guru mengembangkan kompetensi profesional dan mempercepat peningkatan profesionalismenya. Indikator-indikator peningkatan profesionalisme guru melalui
implementasi LS adalah pengembangan Rancangan dan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang selalu menuntut dilakukannya inovasi pembelajaran dan asesmen, siklus plan-do-see yang memungkinkan guru untuk dapat mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif tentang belajar dan pembelajaran, proses sharing pengalaman berbasis pengamatan pembelajaran memberi peluang bagi guru untuk mengembangkan keterbukaan dan peningkatan kompetensi sosialnya, dan proses refleksi secara berkelanjutan adalah suatu ajang bagi guru .
C. Tanggapan Guru mengenai Kebudayaan Model Lesson Study
1. Identitas Narasumber (Guru) dan Hasil Wawancara
a. Guru Fisika SMA
Nama : Dian Mukzizat S.Pd
Pekerjaan : Guru Fisika
Nama Sekolah : SMAN 1 BULUTABA
Menurutnya, fisika adalah mata pelajaran yang sangat menarik karena segala sesuatu yang ada disekitaran kita ada hubungannya dan keterkaitan dengan ilmu fisika. Tapi saat ini peserta didik menganggap bahwa mata pelajaran fisika adalah pelajaran yang sangat sulit sehingga pendidik terkadang mengalami kesulitan untuk menemukan dan membuka pikiran peserta didik. Metode yang digunakan adalah metode pembelajaran saintifik dan metode kontekstual yang memberi contoh-contoh fisika dalam kehidupan sehari-hari peserta didik sehingga menimbulkan sebuah kebiasaan yang dikaitkan dengan peristiwa sehari-hari semacam pada materi alat ukur. Contohnya, ketika memasak nasi , banyaknya air yang digunakan tidak digunakan dengan alat ukur standar, tetapi hanya memakai ruas jari. Teknik yang digunakan pun yaitu teknik yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Sekolah ini, sudah menerapkan model lesson study yang menjadi tolak ukur untuk melakukan pembaharuan disetiap semesternya. Sehingga pihak sekolah mengadakan workshop ataupun seminar untuk melihat kualitas ataupun peningkatan peserta didik dan pendidik.
b. Guru Fisika SMK
Nama : Muhammad Ikram N
Pekerjaan : Guru Fisika
Nama Sekolah : SMKN Tapango
Menurutnya, suka duka ataupun kesan selama menjadi guru adalah pembelajaran yang sangat berharga dan mendorong pendidik untuk meningkatkan kuliatasnya sebagai pendidik. Metode yang digunakan adalah metode ceramah dengan menampilkan media power point. Teknik yang digunakannya pun yaitu teknik yang menyesuaikan karakteristisk peserta didik. Sekolah ini sudah menerapkan lesson study tetapi masih dalam peningkatan-peningkatan.
c. Guru Biologi
Nama : Asiswanto
Pekerjaan : Guru Biologi
Nama Sekolah : SMAN 3 PASANGKAYU
Menurutnya menjadi guru itu menyenangkan,karena bisa mendidik diri sendiri dan mendidik generasi masa depan. Metode yang digunakannya yaitu metode ceramah dan dibarengi dengan media power point (PPT). Teknik yang digunakan pun teknik yang sudah biasa guru-guru gunakan,tetapi ada taktik yang harus kita kuasai dalam menguasai kelas agar pembelajaran saat itu bisa hidup. Pada saat masih mengemban tugas sebagai guru model pengembangan lesson ini belum diterapkan,sehingga peserta didik maupun pendidik kurang dalam meningkatkan kualitas SDM disekolah, serta kurang adanya evaluasi ataupun pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kinerja sebagai pendidik maupun peserta didik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melakukan wawancara dari 3 narasumber yang terdiri dari 2 guru lulusan pendidikan fisika dan 1 guru lulusan pendidikan biologi, dapat disimpulkan bahwasannya kebudayaan yang kini diterapkan yaitu pengembangan lesson study yang sudah dijadikan model kualitas ataupun peningkatan pendidik maupun peserta didik. Implementasi LS secara berkelanjutan akan membantu guru mengembangkan kompetensi profesional dan mempercepat peningkatan profesionalismenya. Indikator-indikator peningkatan profesionalisme guru melalui implementasi LS adalah pengembangan Rancangan dan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang selalu menuntut dilakukannya inovasi pembelajaran dan asesmen, siklus plan-do-see yang memungkinkan guru untuk dapat mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif tentang belajar dan pembelajaran, proses sharing pengalaman berbasis pengamatan pembelajaran memberi peluang bagi guru untuk mengembangkan keterbukaan dan peningkatan kompetensi sosialnya, dan proses refleksi secara berkelanjutan adalah suatu ajang bagi guru.
B. Saran
LS berfokus pada pendidik dan cara belajar peserta didik, seiring dengan meningkatnya aktivitas LS akan berimplikasi pada meningkatnya kualitas peserta didik. Sehingga mengukur keberhasilan LS tidak semata-mata hanya dari hasil tes atau ujian peserta didik. LS bukan tentang mencari gaya mengajar siapa yang paling baik diantara anggota kelompok. LS bertujuan mencari cara mengajar yang paling baik dengan mengkolaborasikan berbagai kelebihan dari para pendidik yang menjadi anggota kelompok. Hal penting dalam lesson studi ini adalah keinginan masing-masing anggota kelompok untuk berkembang menjadi lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar